Coba lihat lalu bandingkan suasana bulan Ramadhan dengan sebelum atau sesudahnya. Kita akan melihat perbedaan yang mencolok. Di bulan Ramadhan, bukan hanya fenomena masjid-masjid yang penuh sesak dengan orang-orang yang melaksanakan shalat tarawih. Pengajian-pengajian di kantor-kantor pun menambah marak suasana ibadah di bulan ini. Ruh Ramadhan menyusup ke relung-relung kehidupan siapa saja. Termasuk orang yang paling semula sangat jauh dengan ibadah.
Tentu saja segala keutamaan Ramadhan itu tidak menjebak kita untuk barang hanya Ramadhan bulan taat, bulan ibadah dan bulan kebaikan. Karena segala adalah bulan taat, ibadah, dan kebaikan. Puasa pada bulan Ramadhan hanyalah: satu momentum untuk menumbuhkan dan meningkatkan ketakwaan. Persoalan lain apakah cukup Ramadhan cukup dengan meningkat keshalehan pribadi saja? Apakah derajat Taqwa yang menjadi tujuan dari ramadhan berhenti hanya sebatas ketaatan kepada Allah SWT saja?
Kegembiraan kita terhadap datangnya bulan Ramadhan harus kita tunjukkan dengan berupaya semaksimal mungkin memanfaatkan Ramadhan tahun sebagai momentum untuk mentarbiyyah (mendidik) diri, keluarga dan masyarakat kearah pengokohan atau pemantapan taqwa kepada Allah Swt, sesuatu yang memang amat kita perlukan bagi upaya meraih keberkahan dari Allah Swt bagi bangsa kita yang hingga kini masih menghadapi berbagai macam persoalan besar.
Berbagai persoalan
Dari tahun ke tahun, angka kemiskinan di Surabaya terus mengalami kenaikan. Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko), angka kemiskinan dari tahun 2005-2007 terus mengalami kenaikkan. Mulai 111.233 KK (atau 377.832 jiwa) pada tahun 2005, 113.129 KK (atau 379.269 Jiwa) pada tahun 2006, dan 126.724 KK (431.331 jiwa) pada tahun 2007 Sedangkan dilihat dari anggaran yang dikucurkan setiap tahun juga mengalami kenaikan, pada tahun 2005 anggaran untuk pengentasan kemiskinan mencapai Rp 150 milyar, tahun 2006 Rp 188 milyar, dan tahun 2007 Rp 229 milyar.
Sungguh memprihatinkan, angka gizi buruk pada balita di Surabaya, selama dua tahun terakhir mengalami peningkatan. Hal ini sangat kontradiktif dengan keberadaan Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia dan kota metropolitan. Dari data pasien gizi buruk yang dirawat di rumah sakit milik Pemkot, RSUD dr Soewandhie, per tahun 2006 tercatat 88 penderita, tahun 2007 menjadi 135 penderita (130%) dan baru memasuki 2008, jumlah penderita sudah mencapai 16 orang.
Dari keseluruhan penderita, yang murni mengalami gizi buruk karena asupan makanan kurang bergizi 5%. Sedangkan sisanya, balita gizi buruk yang disebabkan karena penyakit. “Sebagian besar balita gizi buruk karena balita itu mengidap penyakit tertentu seperti diare maupun penyakit bawaan.
Semakin tingginya beban hidup yang ditanggung oleh golongan miskin juga bisa dilihat dari tingginya angka bunuh diri. Orang bunuh diri sudah tidak kuat menanggung penderitaan yang dialaminya. Bukan berarti mereka tidak tahu agama, mereka sadar, tapi sudah tak mampu menanggungnya. Tekanan hidup yang menghimpit dan kegelapan masa depan menyebabkan
banyak masyarakat menderita sakit jiwa mulai dari ringan sampai berat. Hal yang paling memilukan hati tingginya angka bunuh diri disertai pembunuhan terhadap anak yang mereka kasihi.
Pedulilah
Puasa Ramadhan, tentunya tidak sekadar menahan haus dan lapar, tetapi mampu merasakan jeritan hati mereka yang paling dalam. Tidak sekadar memberi upah, tetapi mampu menghargai pahit getirnya kehidupan mereka dalam berjibaku dengan kemiskinan. Tidak sekadar bersedekah dan menunaikan zakat, tetapi mampu merangkul mereka keluar dari kubang kemiskinan hingga menjadi mandiri dan mampu berzakat.
Berapa banyak dari mereka yang sudah kita sentuh? Sudahkah keimanan dan ketakwaan kita menyatu dengan ketajaman sensitivitas sosial sehingga puasa kita mampu menumbuhkan kesadaran baru yang membuka mata hati dan nurani untuk berpikir, bersikap, dan berperilaku.
Nilai strategis Ramadhan haruslah kita sambut dengan antusias dan serius. Nilai-nilai spiritual, kebersamaan, empati, dan hemat perlu kita bina dalam memanfaatkan momentum Ramadhan kali ini. Sudah saatnya kita berubah dan mentransformasikan diri ke arah kematangan jiwa dan mentransformasikan masyarakat ke arah madaniyah dimana kualitas dan kuantitas hablum minallah dan hablum minannas berjalan harmonis. Kedekatan pada Allah semakin meningkat dan kualitas silaturahmi dan muamalah antar sesama semakin sinkron. Semakin dekat dengan Allah sudah seharusnya semakin pekalah sensitivitas seseorang.
Berbagai persoalan-persoalan yang muncul disekitar kita adalah persoalan yang sebagian besarnya membutuhkan kepedulian kita. Ironis sekali, jika dibulan ramadhan yang mulia ini, penuh berkah dan rahmat, masih ada tetangga, kerabat terdekat kita yang berada menanggung beban hidup. Ironis sekali jika sekedar berbagai curahan hati mereka tidak bisa dapatkan. Oleh karena itu, di momentum Ramadhan ini, bentuk kepedulian yang paling sederhana adalah mengunjungi tetangga terdekat, kerabat terdekat untuk sekedar berbagi cerita meringankan beban hidup yang semakin berat. Bersyukur kalau kemudian bisa sekalian menyelesaikan persoalan yang sedang menimpanya.
Mereka yang mempunyai kelebihan harta, ada kewajiban untuk berzakat. Ramadhan merupakan bulan penuh berkah bagi umat Islam untuk lebih gemar berzakat. Seorang yang mengaku muslim, tidak hanya dituntut menjadi sosok yang shaleh secara individu, tetapi sosok muslim yang kaffah (sempurna) adalah pribadi yang memberikan pengaruh dalam keshalehan sosial. Salah satunya, yaitu melalui instrumen kewajiban mengeluarkan zakat. Sehingga, tidak sempurna keislaman seseorang, jika ia enggan mengeluarkan zakat.
Dengan kepedulian kita terhadap berbagai persoalan disekitar merupakan bagian dari hasil pembinaan selama ramadhan untuk menjadi manusia yang bertaqwa. Selain itu, Allah menjanjikan pahala yang berlipat-lipat bagi mereka yang menebar kepedulian di bulan Suci ini. Maka, saatnya Ramadhan tahun ini menjadi momentum untuk Peduli. Wallahu ‘alam.
*Dimuat diharian Bangsa, 5 September 2008

