Surabaya, Bhirawa
Taman Nasional (TN) Baluran, merupakan salah satu lokasi wisata alam yang terkenal dengan pemandangan hutan dan padang rumputnya yang dimiliki Jawa Timur. Di sana dikenal sebagai lokasi tempat berlindungnya satwa liar banteng, yang saatnya populasinya makin menurun. TN yang dikelola Departemen Kehutanan RI ini, secara administratif masuk wilayah Kabupaten Situbondo.
Sesampai di Baluran, jarak antara kantor pusat informasi dengan lokasi TN hanya sekitar 5 kilometer. Tapi jangan dibayangkan perjalanan menuju ke salah satu pos penjagaan bisa begitu lancar seperti pada umumnya. Meskipun hutan dan sudah beraspal tapi banyak berlubang, medannya juga kadang naik kadang turun. Semua itu bisa diterobati sejuknya pemandangan yang juga bisa berarti berpetualangan.
Di sepanjang jalan, pengunjung juga bisa melihat monyet-monyet bergelantungan di pohon. Ada pula burung merak. Kadang juga rusa. Hampir satu jam lamanya perjalanan menuju Pos Jaga Bekol. Di lokasi itu, pengunjung juga diarahkan untuk menaiki ke menara setinggi sekitar 10 meter. Dan jelas terlihat pemandangan Baluran, luasan pemandangan yang berisikan pohon-pohon hijau, perbukitan, dan savana.
Dari pemaparan beberapa petugas, populasi maskot Baluran, Banteng juga kian lama kian menipis. Kalau pada tahun 2001 jumlah banteng masih berkisar 219 hingga 267 ekor, setahun berikutnya tersisa 81 -115 ekor. Bahkan tahun 2006, jumlahnya tinggal 25 ekor saja. Data terakhir tahun 2007, populasi banteng 34 ekor saia. Kini, tak ada data pasti berapa jumlah banteng yang tersisa. Jelasnya, banteng sudah sulit dijumpai. Perhitungan jumlahnya hanya dari jejak-jejak kaki saja.
Anjloknya populasi banteng lantaran banyak sebab. Selain tangan jahil manusia, perubahan kondisi savana dan adanya predator banteng juga ikut ambil bagian. Semula kawasan padang savana masih sangat luas, namun kini sudah menyusut jauh.
“Saat itu, kami telah berencana melangsungkan penangkaran agar populasi banteng bisa lebih banyak. Saat ini memang Baluran terus berbenah. Kami bekerja sama dengan beberapa instansi untuk pengembangan. Di sini juga kerap ada even untuk melengkapi potensi wisata,” jelas Kepala Balai TN Baluran, Indra Arinal.
Bahkan, di pos jaga Bekol, tampak tumpukan ratusan kerangka kepala banteng dan kerbau. Sebagian masih lengkap dengan tanduknya. Kerangka itu hasil temuan petugas di sekitar hutan Baluran. Beberapa yang lain ditemukan oleh pengunjung atau peneliti.
Menurut Indra, penyusutan lahan savana akibat ekspansi sejenis tanaman akasia. Pohon-pohon akasia yang tumbuh sangat cepat ini, memakan lahan savana yang semula ditumbuhi rerumputan. Banteng pun kehilangan makanannya.
Embung-embung air alami yang semula menjadi tempat minum banteng, ikut lenyap. “Kami sudah mencoba menyalurkan air dari gunung dengan pipa ke tempat-tempat minum banteng. Namun pipa-pipa itu dicuri orang,” katanya.
Untuk melindungi keberadaan banteng liar ini, saat ini telah diupayakan memperluas savanna rumput dengan menebangi pepohonan akasia dan menyediakan sumber air dengan membuat penampungan air.
Selain itu, untuk menghindari perburuan, TN Baluran juga menyiagakan 36 petugas hutan. Tidak hanya itu, keterlibatan masyarakat setempat sebagai pamrakarsa juga tetap diprioritaskan. Langkah ini dirasa cukup efektif, karena saat ini sudah tidak ditemui lagi adanya kasus perburuan banteng.
Indra memprediksi, sulitnya mencari makanan dan minuman membuat banteng, akhirnya mencari tempat makan lain. Bisa jadi, banteng bermigrasi ke tempat lain di dalam kawasan TN Baluran.
Bahkan sangat mungkin ke taman nasional lain yang jaraknya dekat seperti TN Alas Purwa. Penghuni savana alamiah yang juga sudah sulit dideteksi keberadaannya adalah macan tutul. Sejauh ini, pengelola TN Baluran pun kesulitan mencari jejak macan tutul.
Setelah itu, perjalanan kembali dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan bak terbuka dan tentunya 4 gardan untuk melintasi savana. Sepanjang jalan hanya terlihat padang rumput yang berlatar belakang pegunungan. Savana ini merupakan yang terluas di pulau Jawa, yakni sekitar 300 ha dari total 10 ribu ha luas hutan Baluran.
Akhir perjalanan menuju ke pantai Bama. Di pantai itu, selain memang kawasan itu bisa dijadikan ajang rekreasi, juga dijadikan ajang penelitian untuk mengamati benda-benda yang ditemukan di bawah air laut yang dangkal. Balai TN Baluran juga sedang melakukan transplantasi karang di sekitar pantai Bama supaya ekosistem pantai Bama pulih seperti dulu.
Bagi pengunjung yang masih kurang puas menikmati pemandangan, Balai TN Baluran juga menyediakan kawasan perkemahan di padang savana yang disebut Bekol. Penginapan mini mempunyai fasilitas 16 kamar. Hanya dengan Rp 35,000 per orang, pengunjung akan dapat menginap sembari menikmati kesunyian alam yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan luar.
Selain di Bekol, juga bisa menginap di kawasan Bama. Kawasan tepi pantai ini sangat indah karena dekat dengan hutan mangrove dan pantai berpasir putih. Bagi penggemar snorkling, diving, atau ingin berkano, sebaiknya memang menginap di Bama. [rac] (http://www.harianbhirawa.co.id/utama/33921-berkunjung-ke-taman-nasional-baluran-situbondo)

